sejarah liburan

bagaimana konsep rekreasi berubah menjadi kompetisi

sejarah liburan
I

Pernahkah kita merasa butuh liburan tambahan justru setelah kita pulang dari liburan? Kita pasti tahu rasanya. Berdiri di depan cermin kamar hotel, menahan napas agar perut terlihat lebih rata, lalu mengambil empat puluh lima foto hanya untuk memilih satu yang layak masuk Story di media sosial. Bukankah kita terbang jauh-jauh ke Bali atau ke Kyoto untuk menenangkan pikiran? Kenapa rasanya jadwal liburan kita malah lebih padat daripada jam kantor, dan terasa seperti sedang ikut olimpiade? Mari kita duduk santai sebentar, menyeduh kopi, dan membicarakan fenomena aneh yang sedang terjadi pada diri kita semua.

II

Kalau kita mundur sedikit ke belakang, konsep liburan sebenarnya tidak selalu se-melelahkan ini. Mari kita lihat orang Romawi Kuno. Mereka punya istilah otium, yang berarti waktu luang untuk belajar, berpikir, atau sekadar merawat diri. Kebalikannya adalah negotium, yaitu bisnis atau pekerjaan sehari-hari. Bagi mereka, istirahat adalah lambang dari kebudayaan yang tinggi.

Lompat ke abad ke-19, datanglah Revolusi Industri. Manusia mulai bekerja seperti mesin di pabrik-pabrik yang pengap. Tubuh kita hancur, otak kita tumpul. Akhirnya, para pemilik pabrik sadar akan satu fakta biologis dasar: mesin besi butuh didinginkan, begitu juga manusia. Lahirlah konsep vacation secara massal. Tujuannya saat itu sangat sederhana dan berbasis keberlangsungan hidup. Kita diberi waktu libur untuk memulihkan tenaga, agar kita bisa kembali bekerja minggu depan tanpa pingsan di depan mesin tenun. Tidak ada tekanan untuk pamer. Murni hanya untuk memulihkan otot. Lalu, di titik mana sejarah kita berbelok, hingga bersantai menjadi sebuah beban?

III

Pergeseran aneh ini mulai terjadi di pertengahan abad ke-20. Liburan pelan-pelan bergeser dari sekadar alat pemulihan biologis, menjadi alat ukur status sosial. Seorang sosiolog dan ekonom bernama Thorstein Veblen pernah mencetuskan sebuah teori yang ia sebut conspicuous consumption atau konsumsi yang mencolok. Inti dari teori ini sangat menampar ego kita: seringkali kita membeli atau melakukan sesuatu bukan karena kita benar-benar butuh, tapi agar orang lain tahu bahwa kita mampu.

Dan apa cara terbaik untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita punya uang dan waktu berlebih? Ya, dengan pergi sejauh mungkin dari rumah, ke tempat yang sulit dijangkau orang lain. Tapi tunggu dulu, di sinilah muncul sebuah teka-teki psikologis yang menarik. Otak kita didesain secara evolusioner untuk menghemat energi. Leluhur kita bertahan hidup dengan cara menyimpan kalori, bukan membuangnya. Jika secara biologis kita diprogram untuk mencari kenyamanan dan rebahan, kenapa sekarang kita justru secara sukarela mendaki tebing, bangun jam tiga pagi demi melihat matahari terbit, dan menghabiskan belasan juta rupiah hanya untuk merasa kelelahan? Pasti ada sesuatu yang sedang meretas sistem otak kita.

IV

Jawabannya ada pada pertarungan kimiawi di dalam kepala kita sendiri. Teman-teman, mari berkenalan dengan dua hormon yang sedang bertarung hebat saat kita liburan hari ini: dopamin dan kortisol.

Dopamin adalah molekul motivasi dan penghargaan. Ratusan ribu tahun lalu, otak kita melepaskan dopamin saat kita berhasil menemukan sumber air bersih atau padang rumput yang aman. Sekarang? Sistem purba itu telah dibajak oleh algoritma. Saat kita mengunggah foto liburan di kafe yang aesthetic, otak kita berdebar menunggu likes dan komentar. Rekreasi tidak lagi menjadi pengalaman personal yang meditatif, melainkan berubah menjadi sebuah pertunjukan publik. Inilah alasan ilmiah mengapa konsep liburan berubah menjadi kompetisi. Secara tidak sadar, kita sedang diadu untuk membandingkan narasi hidup kita dengan narasi orang lain.

Akibatnya sangat ironis. Alih-alih menurunkan kortisol (hormon stres utama kita), liburan gaya modern justru menyuntikkan kortisol baru ke dalam aliran darah. Kita cemas jika cuaca tiba-tiba mendung. Kita panik kalau baju kita warnanya tidak senada dengan latar belakang foto. Liburan telah berubah menjadi pekerjaan paruh waktu yang tidak dibayar. Secara ilmiah, kita menahan tubuh kita untuk melakukan re-creation (menciptakan ulang sel-sel dan mental yang lelah), dan malah memaksanya melakukan curation (mengurasi citra diri agar terlihat sempurna di mata orang yang bahkan tidak terlalu kita pedulikan).

V

Tentu saja, saya sama sekali tidak sedang melarang kita untuk memotret pemandangan indah atau membagikan momen bahagia bersama keluarga. Hal itu sangat manusiawi. Tapi mungkin, di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat ini, ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk merebut kembali makna asli dari waktu luang kita.

Bayangkan betapa melegakannya jika kita memberi izin pada diri sendiri untuk memiliki liburan yang "biasa saja". Sebuah liburan di mana kita boleh bangun siang, memakan mi instan di kamar hotel tanpa rasa bersalah, melihat pemandangan dengan mata telanjang tanpa perantara lensa kamera, dan tidak memiliki jadwal padat apa pun untuk dipamerkan. Mari kita ingat kembali kearifan orang Romawi dengan otium mereka. Bahwa puncak dari kebebasan sejati bukanlah kemampuan untuk pergi ke tempat paling eksotis yang ada di internet. Kebebasan sejati adalah kemampuan untuk duduk diam, bernapas panjang, dan tidak merasa harus membuktikan apa-apa kepada siapa pun.

Jadi, ke mana rencana teman-teman untuk tidak melakukan apa-apa akhir pekan ini?